Tangsel

Ben-Pilar Pertahankan Tangsel Jadi Surga Kelas Menengah di Indonesia!

Datanesia merilis data terbaru terkait 10 wilayah yang paling banyak menampung kelas menengah di Indonesia, dari tahun 2017-2021. Hasilnya, dari 514 kabupaten/kota yang dianalisis, Tangerang Selatan (Tangsel) secara konsisten masuk dalam 10 besar. Hal ini menunjukkan, periode kepemimpinan Benyamin-Pilar sukses mempertahankan capaian pendahulunya, Airin-Benyamin sebagai daerah yang menjadi surga bagi kelas menengah.

Kelas menengah sangat potensial mendorong percepatan pertumbuhan ekonomi suatu wilayah. Indonesia punya kantong-kantong domisili kelas menengah berdasarkan ekonomi. Daerah lainnya yang masuk 10 besar antara lain: Bekasi, Madiun, Banda Aceh, Bandar Lampung, Pekanbaru, Bengkulu, Palangkaraya, Balikpapan, serta Kendari. Kesemuanya berstatus kota.

Berdasarkan analisis Datanesia, pada tahun 2021 Tangsel memiliki porsi rumah tangga kelas menengah sebanyak 16,61%, setara dengan 82.454 rumah tangga, atau bergeser 106 dari sebelumnya 82.560 rumah tangga (2017).

Ada empat indikator yang digunakan untuk menentukan kelas menengah, antara lain: memiliki
rumah sendiri, memiliki mobil, memiliki lulusan atau mahasiswa di perguruan tinggi, dan memiliki asuransi kesehatan non penerima bantuan iuran (PBI)/Jamkesda atau subsidi iuran layanan kesehatan oleh pemerintah daerah.

Dari 4 indikator tersebut, porsi rumah tangga Tangsel yang memiliki rumah sebanyak 76,14%, 24,82% mempunyai mobil, 42,72% memiliki lulusan atau sedang menjadi mahasiswa di universitas, serta 59,28% memiliki asuransi kesehatan Non PBI/Jamkesda.

Selain itu, jika dilihat dari pengeluaran per kapita misalnya, Tangsel dengan angka Rp 2.571.000, lebih tinggi dari acuan provinsi Banten yang hanya Rp 1.673.000.

Tangsel memiliki tingkat kemiskinan (2021) sebesar 2,6%, jauh di bawah acuan provinsi Banten yang mencapai 6,5%. Untuk tenaga kerja berdasarkan tingkat pendidikan, Tangsel ditopang oleh lulusan SMA (44,9%) dan PT (26,3%).

Jika dilihat dari nilai investasi, Tangsel tergolong daerah yang mempunyai investasi tinggi, sebesar 11,5 Triliun di sektor tersier dalam kurun waktu lima tahun (2017-2021). Di sektor perumahan, Tangsel termasuk yang paling besar mendapatkan kucuran investasi, yaitu Rp 3,2 Triliun dari penanam modal domestik, dan US$ 177 juta dari investasi asing.

Menyikapi tingginya jumlah kelas menengah di Tangsel, pengamat kebijakan publik, Achmad Bahtiar mengapresiasi kinerja Pemkot Tangsel yang telah mendorong bertumbuhnya mereka. Karena, bagi dia, kelas menengah ini menjadi prasyarat penting untuk keberlanjutan pertumbuhan dan pembangunan ekonomi Tangsel.

“Benyamin-Pilar berhasil membuat kelas menengah berkembang siginifikan di Tangsel. Jika dilihat data, angkanya tidak jauh berbeda saat kepemimpinan Airin-Ben. Itu artinya, Pak Benyamin konsisten melanjutkan apa yang sudah digagas oleh Bu Airin. Ini lah yang menjadi jawaban mengapa kelas menengah begitu nyaman tinggal disini,” kata Bachtiar.

Dia menambahkan, banyak kebijakan yang dibuat Ben-Pilar untuk mendorong agar warga Tangsel kuat secara ekonomi.

“Kelas menengah di Tangsel diberikan kemudahan dalam memiliki rumah sendiri, misalnya dengan pemutihan Izin Mendirikan Bangunan atau pun program “JempolSiAbang” kepanjangan dari Jemput Bola pengurusan IMB. Catat, mereka yang sudah punya tempat tinggal sendiri lebih dari tiga perempat rumah tangga.Tak hanya itu, iklim investasi yang kondusif dan sistem perizinan OSS membuat investor menanamkan modal yang sangat besar di Tangsel. Infrastruktur juga sudah sangat memadai dan terintegrasi. Apa efek dominonya? Warga terdorong punya mobil sendiri, asuransi mandiri, dan tentu bisa menyekolahkan anaknya sampai jenjang universitas,” tandasnya. (Adv)

Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Check Also
Close
Back to top button
Close
Close